Category Archives: Agama

Sifat mukmin yang beruntung

Sifat Yang Menjadikan Orang Mukmin Beruntung

 Allah Swt. berfirman di dalam Surat al-Mukminun, salah satu surat yang diturunkan di Makkah (kota suci yang merupakan kiblat bagi orang muslim)

قَد أَفلَحَ ٱلمُؤمِنُونَ (١) ٱلَّذِينَ هُم فِى صَلَاتِہم خَـٰشِعُونَ (٢)وَٱلَّذِينَ هُم عَنِ ٱللَّغوِ مُعرِضُونَ (٣) وَٱلَّذِينَ هُم لِلزَّكَوٰةِ فَـٰعِلُونَ (٤) وَٱلَّذِينَ هُم لِفُرُوجِهِم حَـٰفِظُونَ (٥) إِلَّا عَلَىٰ أَزوَٲجِهِم أَو مَا مَلَكَت أَيمَـٰنُہم فَإِنَّہم غَيرُ مَلُومِينَ (٦) فَمَنِ ٱبتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٮكَ هُمُ ٱلعَادُونَ (٧) وَٱلَّذِينَ هُم لِأَمَـٰنَـٰتِهِم وَعَهدِهِم رَٲعُونَ (٨) وَٱلَّذِينَ هُم عَلَىٰ صَلَوَٲتِہم يُحَافِظُونَ (٩) أُوْلَـٰٮٕكَ هُمُ ٱلوَٲرِثُونَ (١٠)

Dalam ayat di atas, Allah memberikan kabar gembira berupa keberuntungan kepada orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang mempercayai dan meyakini dengan rukun iman yang enam, iman kepada Allah, kepada malaikat Allah, kepada kitab-kitab Allah (Injil,Zabur, Taurat, Al-qur’an), kepada utusan Allah, kepada hari akhir, dan kepada qada’ danqadar Allah.

Apa saja karakteristik orang mukmin yang akan menjadikan mereka beruntung di mata Allah?

1.   Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,

Shalat adalah rukun islam yang kedua dan wajib bagi setiap muslim untuk menjalankannya. Inna shalata tanha anil fahsya’ wal munkar  “sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. Shalat yg bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar adalah shalat yg dilakukan dengan khusyu’, yaitu sholat dengan hati yang patuh dan tunduk secara totalitas keharibaan Allah. Hal ini perlu usaha yang sangat keras dan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Perlu memahami setiap bacaan dalam sholat, perlu ada ketenangan hati, dan perlu konsentrasi penuh terhadap kekuasaan Zat Allah yang maha agung. Hanya orang-orang yang sholat khusyu’ yang akan mampu merasakan getaran keagungan Allah dan menjadikannya bertambah iman kepada Allah.

2.   Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada guna.

Al-laghwu berasal dari kata lagha yang berarti perbuatan atau perkataan yang yang sia-sia, tidak ada nilainya. Jika mau merenungkan diri, maka kita akan menyadari bahwa hidup yang dijalani di dunia hanya berlangsung dengan waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan kehidupan di akhirat. Sungguh kerugian yang sangat besar bagi orang yang tidak bisa memetik hasil dari ucap dan laku. Sungguh merugi bagi orang yang tidak bisa menabung amal untuk kehidupan abadinya (akhirat).

3.   Orang-orang yang menunaikan zakat

Zakat adalah salah satu pilar dalam islam. Orang muslim yang mampu secara finansial mempunyai kewajiban untuk mengeluarkannya. Zakat bertujuan untuk membersihkan jiwa dan harta. Dengan kebersihan jiwa, maka orang akan mampu menghamba secara menyeluruh kepada Tuhannya. Hanya orang yang bersih jiwa dan hartanya yang mampu hidup khusyu’ dalam kesehariannya.

4.   Orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Menjaga kemaluan bukan hanya pada wanita, pada diri laki-laki juga. Jika seseorang tidak mampu menjaga kemaluan dari yang haram (selain kepada istri/suami dan budaknya), maka mereka akan terjerumus ke dalam pintu kemaksiatan larangan Allah. Perilaku ini juga akan menjadikan kerusakan rumah tangga diambang pintu. Jiwa seseorang akan rusak dan kesucian akan sirna.

5.      Orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya.

Orang yang memelihara amanah adalah orang orang yang apabila diberi kepercayaan, mereka tidak akan mengkhianatinya. Amanah adalah tugas yg akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Amanah seorang ayah dan ibu adalah anak. Amanah seorang suami adalah istri dan anak-anaknya. Amanah presiden adalah rakyatnya. Semua amanah-amanah tersebut aka dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Kita tidak boleh merasa bangga menjadi seorang pemimpin karena akan dimintai pertanggungjawaban yang begitu besar kelak  jika belum menjalankan tugas-tugasnya dengan baik

6.      orang-orang yang memelihara shalatnya.

Orang yang memelihara shalat adalah orang yang senantiasa melaksanakan shalat tepat pada waktunya secara berlanjutan. Shalat adalah tiang agama. Seseorang yang mampu menegakkan shalat berarti ia telah menegakkan agamanya. Sebaliknya, seseorang yang meninggalkan shalat berarti ia telah meruntuhnya agama.

Orang yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas berhak menyandang predikat orang mukmin yang beruntung. Tiada balasan terbaik untuk mereka kecuali surga firdaus sebagai warisan untuk tinggal kekal di dalamnya.

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang beriman dengan memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan di atas, amin ya rabbal alamin.

 

 

Empat wanita calon penghuni surga dan

empat wanita calon penghuni neraka

 

Sayang,

Simaklah sabda Rasulullah Saw. berikut ini. Semoga engkau bisa meneladani karakteristik wanita calon penghuni surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Ada empat macam wanita yang masuk surga dan empat macam wanita yang lain masuk neraka. Di antara empat wanita yang masuk surga adalah:

  1. Istri yang memelihara kesucian (kehormatan diri), menaati perintah Allah dan suami, banyak anak, penyabar, mudah menerima pemberian sedikit bersama suaminya, mempunyai rasa malu.
  2. Istri yang apabila suami tidak ada di tempat (sedang pergi), ia memelihara diri dan harta suaminya.
  3. Istri yang mengekang lisannya ketika suami sedang di rumah.
  4. Istri yang ditinggal suami dan ia mempunyai banyak anak tetapi ia menahan diri untuk kepentingan anak-anaknya, memelihara mereka, berlaku baik pada mereka, dan tidak menikah lagi karena khawatir jika menyiakan anak-anaknya.

Sedangkan empat wanita lain yang ditetapkan masuk neraka adalah:

  1. Istri yang berlisan buruk pada suami, kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya, kalau suaminya berada dirumah lisannya terus mencerca dengan kata-kata yang buruk.
  2. Isteri yang membebani suami dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya.
  3. Isteri yang tidak menutup diri dari lelaki lain bahkan ia keluar rumah dengan dandanan yang berlebihan.

Isteri yang tidak mempunyai aktivitas lain kecuali makan, minum, tidur dan tidak mempunyai kecintaan untuk melaksanakan sholat, tidak menaati Allah dan RasulNya, dan tidak berusaha menaati suaminya. Isteri yang bersikap seperti itu adalah istri yang terlaknat, termasuk ahli neraka, kecuali jika segera bertaubat.

Sejenak Bersama Wanita Ahli Surga

Khadijah Binti Khuwailid Ra.

 

Siapakah muslim dan muslimah yang tidak pernah mendengar namanya? Ia adalah wanita yang ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk menjadi pendamping hidup manusia terbaik di alam semesta, Muhammad Saw. Ia bernama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah radhiyallahu’anha. Namanya telah mengukir sejarah umat Islam sebagai wanita yang kali pertama mengimani suaminya, Muhammad pemuda Mekah yang mendapat gelar al-Amin dari kaumnya di usia yang masih muda. Ia adalah sebaik-baik wanita dari umatnya. Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam putri Imran dan sebaik-baik wanita dari umatnya adalah Khadijah.” (HR Bukhari dan Muslim). Namanya telah terukir di dalam qalbu Muhammad Saw. Tidak ada wanita satupun yang bisa mengganti kedudukannya di sisi Rasulullah Saw. Bahkan dialah satu-satunya wanita yang membuat cemburu besar `Aisyah r.a., satu-satunya istrinya Rasulullah Saw. yang mempunyai status perawan dan masih muda saat dinikahi Rasulullah Saw.

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits, dari `Aisyah r.a.: Hampir setiap kali keluar rumah, Rasulullah Saw. selalu menyebut dan memuji Khadijah. Suatu hari, beliau menyebut namanya sehingga menimbulkan kecemburuanku. Aku berkata, “Wahai Rasul, bukankan Khadijah hanyalah seorang perempuan tua, dan Allah Swt. telah memberikan gantinya dengan yang lebih baik bagimu?”

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. marah hingga rambut di ubun-ubunnya bergerak. Kemudian, beliau bersabda, “Tidak, demi Allah. Allah tidak menggantikan untukku seorang pun yang lebih baik daripada dirinya. Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, mempercayaiku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberikan hartanya kepadaku, dan Allah Swt. menganugerahiku dengan anak-anaknya ketika istri-istriku yang lain tidak dapat memberikan anak kepadaku.” (Setelah mendengarkan penjelasan beliau) Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menyebut Khadijah lagi dengan sesuatu yang buruk. (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Sangat besar rasa cinta Rasulullah Saw. kepada Khadijah Ra. hingga `Aisyah mengatakan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah.”

Sayang,

Apa yang menjadikan Khadijah Ra begitu membekas dalam hati Rasulullah Saw meskipun ia sudah meninggal? Setidaknya dari siroh Rasulullah Saw. kita bisa memetik beberapa poin yang menjadikan Khadijah r.a. sangat dicintai dan disayang Rasulullah Saw.

 1. Percaya penuh kepada suami

Khadijah r.a. tahu bahwa akan ada nabi akhir jaman yang akan muncul kelak. Setelah diceritakan oleh Siti Maisaroh akan peristiwa yang dialaminya saat bersama Muhamad Saw. dalam berdagang, diantaranya peristiwa berjalannya awan melindungi Muhammad, dan kejujuran yang ada pada diri Rasulullah Saw., maka Khadijah r.a. semakin terkesima dengan pribadi Rasulullah Saw. Khadijah r.a. akhirnya dengan mantap meminangnya. Kecintaan Khadijah r.a. terhadap suami ditunjukkan dengan memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Sesaat setelah menerima wahyu yang pertama di gua Hira`, Rasulullah Saw. segera pulang dengan sangat gelisah dan menggigil ketakutan saat di rumah. Khadijah r.a. sangat khawatir terhadap kondisi yang luar biasa itu. Sesaat setelah itu, Nabi Saw. menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya selama meditasi di gua. Khadijah r.a. sangat gembira mendengar berita itu. Ia memberikan ucapan selamat kepada suaminya, Muhamad, karena telah diangkat sebagai utusan tertinggi oleh Allah Swt. Ia berkata “Bergembiralah, karena Tuhan tidak akan meninggalkanmu.” Khadijah berusaha memupuk ketenangan hati suaminya dan berkata, “Wahai kakanda, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya engkau adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan serta sanggup memikul tanggung jawab. Engkau dikenal sebagai penolong kaum yang lemah, sebagai tuan yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam member pertolongan, senantiasa berbicara benar, dan setia terhadap amanah.”

Khadijah r.a. kemudian mengimani suaminya sebagai utusan Allah Swt. yang terakhir yang membawa risalah kenabian. Ia wanita pertama yang masuk Islam. Kepercayaan Khadijah yang diberikan secara penuh telah membangkitkan semangat Rasulullah Saw. dalam mengemban tugas baru membawa risalah ilahiyah. Rasulullah Saw. secara khusus mengabadikan kepercayaan Khadijah r.a. terhadap dirinya dalam sebuah hadits, “Demi Allah! Dia (Khadijah) beriman kepadaku di saat orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku di saat semua orang mendustakanku. Dan dia membantuku dengan menginfakkan segenap hartanya ketika semua orang menahan hartanya dariku dan Allah telah mengurniakan beberapa orang keturunan dari rahimnya yang tidak aku peroleh dari isteri-isteriku yang lain”. [HR Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar].

Sungguh istri yang sholehah yang sentiasa taat terhadap suami. Sungguh istri yang menyejukkan hati yang senantiasa memberikan kepercayaan penuh kepada suami. Istri sholehah, istri yang ridho dan diridhoi suaminya. Tiada balasan yang layak untuknya kecuali surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

 2. Selalu ada ketika suami membutuhkan

Seorang istri yang sholehah akan terus senantiasa bersama suami baik dalam kondisi senang maupun susah. Khadijah r.a. patut dijadikan tauladan sebagi istri yang sangat setia kepada suaminya. Masa-masa awal kenabian adalah masa yang sangat sulit dilalui oleh Rasulullah Saw. Kaum Quraisy senantiasa memberikan penetrasi atau tekanan yang sangat besar kepada Muhammad Saw. dalam berdakwah. Hal ini sangat wajar karena Rasulullah Saw. hendak mengubah sebuah sistem yang telah mengakar sejak nenek moyang. Rasulullah Saw. hendak mengubah jaman dari Jahiliah menuju nur ilahiah.

Di masa yang sulit itu Khadijah selalu menemani Rasulullah Saw. Khadijah dengan sabar menjalani masa pemboikotan oleh kaum Quraisy terhadap keluarga Rasulullah Saw. Ia tidak pernah sedikitpun mengeluh atas musibah yang diberikan oleh Allah Swt. terhadap keluarganya. Ia justru dengan semangat memotivasi suaminya ketika mengalamai banyak pertentangan dari kaum Quraisy terhadap nilai Islam yang dibawanya.

 3. Penuh cinta dan kasih sayang terhadap suami

Sungguh merupakan kebutuhan yang sangat mutlak bagi para suami dalam berumah tangga untuk mendapatkan cinta, kasih sayang dan perhatian dari sang istri tidak terkecuali Rasulullah Saw. Unsur-unsur inilah yang bisa memotivasi dan memberikan spirit kepada Rasulullah Saw.

Kecintaan Khadijah terhadap Rasulullah Saw. nampak sesaat setelah pernikahannya. Cinta itu diwujudkan dengan menyerahkan segalanya tidak hanya dirinya, tetapi semua harta benda Khadijah r.a., seorang wanita bangsawan dan hartawan serta memiliki akhlak yang sangat terpuji. Setelah selesai acara pernikahan, Khadijah r.a. membuka isi hati kepada Muhammad Saw, “Duhai Al-Amin (laki-laki yang dipercaya), bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakan ke jalan mana yang engkau ridhai.” Allah Swt. mengabadikan hal ini dalam Al-Quran, “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kekayaan.” [Qs. Adh-Dhuha: 8]

Cinta identik dengan pengorbanan. Begitulah kecintaan Khadijah r.a. terhadap Rasulullah Saw. Segala sesuatu yang dimilikinya diserahkan secara totalitas ke Rasulullah Saw. Sejak awal pernikahan, seorang Khadijah r.a. telah membuktikan cintanya kepada Muhammad Saw. muda. Cinta tersebut semakin lama justru semakin subur dan berkualitas. Hingga akhir hayatnya, seluruh kehidupannya didedikasikan untuk suaminya, Muhammad Saw. Cinta inilah yang sangat membekas pada diri Rasulullah Saw. sampai terbawa dalam kehidupannya meskipun beliau sudah beristri lagi. Nampak sekali bagaimana kecemburuan `Aisyah r.a. terhadap Khadijah r.a. yang selalu disebut-sebut oleh Rasulullah Saw. meskipun ia sudah meninggal. `Aisyah r.a.  berkata, “Wahai Rasul, bukankan Khadijah hanyalah seorang perempuan tua, dan Allah Swt. telah memberikan gantinya dengan yang lebih baik bagimu?”

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. marah hingga rambut di ubun-ubunnya bergerak. Kemudian, beliau bersabda, “Tidak, demi Allah. Allah tidak menggantikan untukku seorang pun yang lebih baik daripada dirinya. Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, mempercayaiku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberikan hartanya kepadaku, dan Allah Swt. menganugerahiku dengan anak-anaknya ketika istri-istriku yang lain tidak dapat memberikan anak kepadaku.” (Setelah mendengarkan penjelasan beliau) Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menyebut Khadijah lagi dengan sesuatu yang buruk. (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Cinta yang tulus dari Khadijah r.a. tersebut telah menghasilkan kasih sayang yang dalam terhadap suaminya, Rasulullah Saw. Sesaat setelah ditemui oleh malaikat Jibril alaihissalam (a.s.), Rasulullah Saw. pulang dalam kondisi yang gemetar dan menggigil. Kondisi tersebut membawa Khadijah r.a. untuk bersikap tenang dan memberikan ketenangan kepada suami tercintanya. Setelah kondisi tenang, Muhammad Saw. menceritakan secara lengkap kejadian yang baru saja di alaminya. Khadijah r.a. sadar bahwa sejak saat itu, Muhammad Saw. telah diangkat oleh Allah Swt. menjadi rasul penutup para nabi dan rasul. Nampak kekhawatiran tersebut muncul pada diri Khadijah r.a. Tantangan berat siap menghadang Rasulullah Saw. dalam menyampaikan syariat Ilahiah. Kasih sayangnya mampu melahirkan spontanitas perasaan ke suaminya, Muhammad Saw.

 4. Rela berkorban demi membela Islam

Khadijah r.a. telah mengajarkan kepada setiap wanita muslimah untuk memberikan yang terbaik kepada suaminya. Ia telah mengorbankan segalanya untuk kepentingan dakwah suaminya, Rasulullah Saw. Ia telah menyiapkan rumah yang sangat untuk baginda Muhammad Saw. sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul akhir zaman. Ia menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh Rasulullah Saw. selama beliau merenung di gua hira. Ia mengorbankan seluruh harta dan jiwanya untuk mendukung dakwah yang dilakukan oleh suaminya. Hartanya digunakan untuk Islam. Jiwanya dikorbankan untuk Islam. Dalam kondisi senang maupun susah, ia senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. dengan sabar.

Sangat layak apabila dia mendapat keistimewaan khusus dari Allah Swt., keistimeawaan yang tidak dimiliki oleh wanita lain di dunia ini. Ia mendapat ucapan salam dari Allah Swt. dan diberi janji kebahagiaan akhirat berupa syurga.Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata : “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam “Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata: “Keshahihannya telah disepakati.”]

 5. Mendidik anak dengan baik

Khadijah r.a. di mata Rasulullah Saw. adalah sosok wanita yang penuh cinta, kasih sayang, dan mempunyai jiwa keibuan. Ia memiliki tempat yang khusus pada diri Rasulullah Saw. Ia memiliki keistimewaan yang luar biasa dan sangat membekas pada diri Rasulullah Saw. Salah satu keutamaannya adalah melalui dirinya Rasulullah Saw. dikarunai anak oleh Allah Swt. Beliau Saw. bersabda, “Allah tidak memberi ganti kepadaku wanita yang lebih baik dari Khadijah. Ia beriman kepadaku saat orang-orang kafir kepadaku. Ia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya saat orang-orang tak memberikannya kepadaku. Dan darinya, Allah mengkaruniakan anak-anak kepadaku saat Dia tak mengkaruniakannya dari wanita-wanita lain.”[1]

Menurut para ulama ahli sejarah, selama Rasulullah Saw selama berumah tangga dengan Khadijah r.a., beliau dikarunia 6 orang anak, dua putra dan empat putri. Dua anak laki-laki adalah Al-Qasim dan Abdullah, sedangkan dua empat anak perempuan yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Kedua putra Rasulullah Saw.  meninggal pada waktu usia yang masih kecil.

Khadijah r.a. sangat cinta dan sayang kepada putra-putrinya. Ia mendidik anaknya dengan bijak, lembut, dan penuh rasa ikhlas. Ia mengajarkan kemuliaan budi pekerti tidak hanya secara lisan, namun juga nampak pada setiap tindakan. Ia mengajarkan kesederhanaan meskipun sebenarnya berlimpah kekayaan. Ia mengajarkan dengan dilandasi nilai-nilai ilahiyah. Tak ayal, putri-putrinya pada khususnya menjadi wanita-wanita yang sholehah.

 6. Bertutur lembut dengan suami dan menenangkan

Rasa cinta dan setia Khadijah r.a. kepada suaminya, Rasulullah Saw, tidak diragukan lagi. Bahkan ia patut menjadi wanita teladan umat Islam sampai saat ini dalam hal bakti kepada suami. Salah satu kasih sayang itu nampak pada kata-kata lembut yang senantiasa keluar dari lisan wanita terbaik dari umatnya.

Istriku sayang, Perhatikanlah tutur kata Khadijah r.a. ketika terjadi peristiwa turun wahyu pertama yang membuat Rasulullah lari ketakutan. khadijah berkata, “Jangan khawatir, berbahagialah, sesungguhnya Allah tidak mungkin akan menghinakanmu dengan kejadian itu. Selama ini, engkau selalu menyambung silaturahmi, jujur dalam berbicara, meringankan beban orang lain yang kesusahan, membantu orang lemah, menghormati tamu, dan mendukung setiap hal yang mengandung kebenaran.”

Subhanallah, kata-kata yang keluar dari lisannya justru tidak menambah kepanikan yang sedang dialami oleh Rasulullah Saw. tatkala baru saja mendapatkan wahyu pertama di gua hira`. Sungguh, salah satu karakteristik istri yang sholehah adalah istri yang senantiasa membahagiakan suami dengan tutur kata lembut dan selalu menenangkan ketika suami sedang mengalamai ketegangan.

 7. Tawakal dan sabar

Khadijah adalah wanita terbaik yang dimiliki umat Islam. Ia adalah ummul mukminin. Kesabaran dalam mendedikasikan secara total kepada suami dalam menegakkan Islam patut menjadi tauladan. Meskipun ia wanita bangsawan dan bercukupan, namun ia tetap rendah hati dan selalu taat secara total kepada suami. Ketaatan dan kesabarannya bisa dilihat bagaimana ia menjalani masa pemboikotan bersama suami. Pemboikotan keluarga bani hasyim oleh kaum quraish karena sikap Rasulullah Saw. yang terus menyampaikan syariat Allah. Pasca masa pemboikotan ini, Ummul mukiminin sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Kesabaran dalam senang dan sedih bersama suaminya, Rasulullah Saw. selalu menghiasi aktifitasnya.

Istriku sayang,

Semoga engkau bisa memetik pelajaran berharga dari ummul mukminin, wanita terbaik umat Islam, Khadijah r.a., amin ya robbal alamin.


[1] Redaksi hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad dalam Bagi Musnad Al-Anshar Hadits Al-Sayyidah `Aisyah:23719. Menurut Al-Haitsami, hadits ini adalah hadits hasan.

Kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan

 Istriku,

Tahukah engkau bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan? Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, seorang sahabiyah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang mengapa kebanyakan penghuni neraka adalah kaum perempuan. Rasulullah Saw. menjawab, “Karena mereka sering melemparkan kutukan dan mengingkari pemberian suami.”

Sayang,

Waspadalah dengan kufur nikmat dan ingkar terhadap pemberian suami. Allah telah memberikan anugerah dan karunia yang besar kepadamu melalui suamimu. Namun terkadang karena sifatmu yang perasa, mudah emosi, dan mudah terpengaruh, perihal yang sepele atau permasalahan kecil akan menjadi bumerang bagimu untuk tidak ingat terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan melalui suami. Adalah cirri khas seorang perempuan, ia berubah secara drastis dan mendadak dalam waktu yang singkat. Ia berbicara dengan kutukan ke sana kemari. Ia tiba-tiba memutuskan silaturahmi kepada kerabat. Sifat-sifat inilah yang akan mengantarkan engkau ke jurang api neraka.

Rasulullah Saw. telah mengingatkan: dari Asma` binti Yazid Al-Anshariyyah r.a.: ketika aku sedang duduk bersama orang-orang sebayaku, Rasulullah Saw. lewat dan mengucapkan salam kepada kami. Kemudian, beliau bersabda, “Waspadalah kalian, jangan mengingkari orang-orang yang telah memberikan kenikmatan.” Di antara mereka, akulah yang paling berani untuk bertanya kepada beliau, Aku bertanya, “Ya Rasulallah, apakah yang dimaksud dengan pengingkaran terhadap orang-orang yang telah memberikan kenikmatan?” Beliau menjawab, “Bisa jadi seseorang dari kalian menjanda, lalu Allah menganugerahinya suami dan memberinya anak, tetapi ia sangat marah dan mengingkari nikmat. Ia bekata,`Aku tidak mendapatkan satu kebaikanmu pun darimu.`” (HR Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ahmad).

Sayang,

Sungguh hina balasan para istri yang kufur terhadap nikmat yang diberikan suami, yaitu Allah tidak akan pernah melihat istri yang tidak berterima kasih atas kebaikan suami. Rasulullah Saw. bersabda “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” .[HR. An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya.

Sayangku,

Bersabarlah dan berusaha terus untuk mencari keridhaan Allah Swt. dan kerelaan hati suami. Berdoalah agar senantiasa dijauhkan Allah Swt. dari kufur nikmat. Seorang istri yang mendapat keridhaan suami, maka layak baginya surga yang dijanjikan. Ini karena surga kaum istri terletak pada kerelaan hati suami di samping kepatuhan dan ketundukannya kepada syariat Allah.

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

 Alhamdulillah, syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah mempertemukan kita kepada bulan yang penuh barakah, rahmat, dan maghfirah, yakni bulan Ramadhan 1423 H. Alhamdulillah, Allah telah mengijabah doa-doa yang senantiasa kita panjatkan, Allahumma baariklana fii rajaba wa sya`ban wa ballighna ramadhan (Ya Allah berikanlah kami barakah di bulan rajab dan sya`ban dan pertemukanlah kami dengan bulan ramadhan). Semoga kita bisa mengisi bulan ramadhan ini dengan amal-amal hasanah sehingga menambah pundi-pundi pahala di sisi Allah Swt., amin ya rabbal alamin.

Ramadhan adalah bulan yang mulia. Di dalamnya, Allah memerintahkan hambaNya untuk berpuasa, yakni menahan syahwat lisan, syahwat perut, dan syahwat farji sejak fajar sampai matahari terbenam, agar bisa mencapai derajat tertinggi di sisi Allah Swt., yakin insan yang bertakwa. Di dalamnya, Allah Swt., telah menetapkan perintah-perintah wajib yang bisa membersihkan manusia dari segala dosa kecil dan mensucikan harta serta jiwa manusia. Selain ibadah puasa, Allah telah mensyariatkan zakat kepada hambaNya dalam rangka mensucikan jiwa dan harta. Dalam sesi ini, kita akan berdiskusi tentang zakat sebagai wasilah untuk membersihkan harta dan jiwa.

1.      Kedudukan zakat dalam Islam

Zakat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, yakni sebagai salah satu rukun Islam. Allah Swt. bahkan mensejajarkan kata sholat dan kewajiban berzakat dalam Al Qur`an dengan disebutkan dalam berbagai bentuk kata. Salah satunya adalah, “…Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taubah :5)

Zakat memiliki kedudukan penting dalam Islam setelah kewajiban sholat. Saking pentingnya kewajiban zakat, Allah Swt. sangat memuji kepada orang yang menunaikan dan mengancam dengan hukuman dunia dan akhirat bagi orang yang meninggalkan dengan berbagai daya dan upaya. Allah Swt. memperingatkan,”…dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’” (Qs: Al-Taubah: 34-35). Selain itu dalam beberapa hadits shahih dijelaskan bahwa :

  1. Orang yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa kelaparan dan kemarau panjang.
  2. Bila zakat bercampur dengan kekayaan lain, maka kekayaan itu akan binasa.
  3. Pembangkang zakat dapat dihukum dengan denda bahkan dapat diperangi dan dibunuh. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar ketika setelah Rasulullah wafat dimana banyak suku Arab yang membangkang tidak mau membayar zakat dan hanya mau mengerjakan sholat.

2.      Makna zakat

Zakat menurut bahasa memiliki beberapa makna, yaitu: Al-Thohuru (membersihkan atau mensucikan), Al-Barakatu (berkah), An-Numuw (tumbuh dan berkembang), dan As-Sholah (beres atau keberesan).

Zakat bermakna membersihkan atau mensucikan. Makna ini menyampaikan bahwa orang yang menunaikan zakat karena Allah Swt. dan bukan karena siapapun atau apapun, maka Allah Swt. akan membersihkan jiwa dan harta tersebut. Allah Swt. berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (yakni membersihkan dari kekikiran dan cinta yang berlebihan terhadap harta benda) dan mensucikan (yakni menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati dan memperkembangkan harta benda) mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Taubah: 103)

Zakat bermakna berkah. Makna ini menyampaikan bahwa orang yang mengeluarkan hartanya untuk berzakat di jalan Allah Swt., maka hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah Swt. Keberkahan harta akan memberikan dampak positif kepada seseorang sehingga memperoleh keberkahan di dalam kehidupannya. Orang yang hidupnya berkah, maka ia akan dimudahkan oleh Swt. untuk bisa istiqamah dalam menjalankan kebaikan-kebaikan sesuai syariat Allah Swt. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa menambah amal-amal kebaikan dalam kesehariannya. Mengapa zakat bisa memberikan keberkahan dalam hidup seseorang ? ini dikarenakan orang yang berzakat pada hakikatnya telah membersihkan harta dari kotoran sehingga harta yang dipergunakan dalam kehidupan kesehariannya adalah harta yang suci dan bersih.

Zakat bermakna tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang menunaikan zakat, maka dengan izin Allah Swt. hartanya akan senantiasa tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh kebersihan harta yang digunakan dalam kesehariannya. Allah Swt. tidak akan pernah memberikan permasalahan terhadap harta dan usaha (misalnya bangkrut, hancur, rugi dalam berusaha) terhadap orang-orang yang menunaikan zakat dengan ikhlas karena Allah Swt. semata. Allah Swt. berfirman, ”Dan sesuatu riba  yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka  itulah orang-orang yang melipat gandakan.”. (Qs. Ar-Rum: 39).

Zakat bermakna keberesan. Makna ini menegaskan bahwa orang yang menunaikan zakatnya, maka harta akan selalu beres dan Allah Swt. akan senantiasa menjaganya dari berbagai permasalahan.

3.      Hakikat zakat

Zakat terdiri atas dua macam, yakin zakat jiwa (zakat fitrah), dan zakat maal (harta). Zakat fitrah berasal dari kata al-fithr (berbuka). Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan dalam Islam. Zakat fitrah ini wajib dikeluakan per jiwa umat Islam dan dibayarkan sebelum berbuka, yaitu sholat Idul Fitri. Sedangkan zakat mal berasal dari kata maal (harta). Zakat mal untuk mensucikan harta dari hal-hal yang haram dan menjaga harta dari orang-orang yang berhak. Hakikat dari zakat fitrah dan zakat mal adalah untuk membersihkan dan mensucikan jiwa dan harta.

Secara logika matematis, seseorang yang berzakat justru akan berkurang hartanya. Misalnya orang yang mempunyai uang Rp 150.000 dan mengeluarkan zakat sebesar Rp 10.000, maka uang tinggal Rp 140.000. Secara matematis, uang kita berkurang. Namun Rasulullah Saw. menyampaikan ”Tidak akan berkurang harta karena sedekah dan zakat. Barang siapa memberikan zakat infaq dan sadaqah kepada orang-orang yang memerlukan, berarti ia telah mengutangkan sesuatu kepada Allah dan Allah yang bertanggung jawab membayarnya.” Allah Swt. berfirman, ”Perumpaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Hakikat orang-orang yang berzakat selain membersihkan jiwa dan harta, juga menambah barakah dan kuantitas harta. Wallahu a`lamu.

Referensi:

  1. Majalah Asy-Syariah edisi 10.
  2. www.rumahzakat.org
  3. Kitab fikih zakat, Dr Yusuf Qardawi